Kamis, 25 Desember 2014

hanya tulisan yang terlontar begitu saja, mungkin tidak tepat semantik, fonetik atau sintaksis.

Kemarin, saya sangat bahagia sebab Tuhan masih memberikan kesehatan kepada saya. Pikiran saya begitu tenang, dan badan pun terasa fit. Nikmat kesehatan inilah yang sering saya abaikan, saya lalaikan seperti anugerah ini sesuatu yang biasa saja. Padahal kalau mau jujur, tak ada yang lebih dibutuhkan dalam hidup selain nikmat sehat ini.

Orang-orang bilang saat kita kecil kita telah melakukan perjanjian dengan Tuhan, ketika kita dalam kandungan. Perjanjian itu meliputi seberapa jauh kita akan menaati Tuhan. Dan, menurut Dr. Zakir Naik di situlah letak kebodohan manusia. Sebab gunung saja akan runtuh jika diturunkan kepadanya risalah Tuhan. Memang ada kompensasi Tuhan kepada manusia, jika dia taat maka manusia akan diangkat lebih tinggi melebihi derajat malaikat. Namun jika sebaliknya akan jatuh lebih dalam melebihi binatang.

Dalam konteks inilah saya tersadar. Saya memang tidak melakukan pembunuhan dan kejahatan besar lainnya, tapi meremehkan Tuhan tetaplah sebuah kejahatan. Malah lebih besar mungkin dampaknya dibanding pemerkosaan. Walau sejatinya melakukan pemerkosaan juga sebuah peremehan terhadap Tuhan.

Mengabaikan nikmat sehat adalah salah satu peremehan terhadap Tuhan. Yang diakibatkan oleh kealpaan mengenai perjanjian dengan Tuhan dulu di dalam kandungan.

Selain ingat kepada Tuhan, tadi pagi saya sempat terenyuh dengan laki-laki sebaya yang berjualan lumpiya di pinggir jalan yang biasa saya lewati. Harga satu lumpiya 1000 rupiah. Saya tanyakan kepadanya sampai jam berapa dia jualan. Ternyata sampai sore.

Memang tidak tepat menilai orang lain dari kaca mata kita. Namun bukan berarti salah sama sekali. Gaya hidupnya tidak sama dengan saya. Bagi saya uang 5000 rupiah, apalagi hanya 1000 rupiah bisa dibilang tidak ada artinya. Bukannya mau sombong, tetapi memang kenyataannya kalau ada pecahan seribuan yang pertama ada di pikiran saya adalah; ini untuk parkir atau yang paling banter masuk kotak amal masjid.

Mari kita bayangkan uang 1000 rupiah bagi penjual lumpiya. Pasti sangat-sangat berharga. Pikirkan saja, dalam satu gerobaknya selama sehari mungkin saja dia maksimal, katakanlah 100 ribu rupiah. Kalau lumpiya itu milik sendiri maka seluruh keuntungannya masuk kantong sendiri. Kalau tidak, hanya berapa yang ia bawa pulang?

Jelas, standar hidup seperti ini buat saya tidak cocok. Saya menulis ini hanya untuk mencoba memahami keadaan orang lain, meski saya tau orang lain yang bekerja seperti ini tidak peduli dikasihani atau tidak. Ini penting buat saya sebagai bahan renungan. Bahwa kehidupan yang lebih baik (yang tentu dalam versi saya) seharusnya membuat kualitas hidup saya juga baik.

Namun faktanya, kecukupan duniawi ternyata tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan rohani. Selalu saja ada rasa kurang dalam materi. Keinginan, menjadi (tepatnya dijadikan) kebutuhan. Dan pada akhirnya tentu tidak jauh dari ketidakpuasan.

Pernah saya membaca kenapa sesuatu yang bisa dibeli dengan uang sekarang lebih dihargai dibanding sesuatu yang tidak dapat ditukar dengan alat bayar tersebut. Sebut saja kecantikan alami dan buatan. Ini karena pengaruh budaya hedonisme, konsumerisme, atau bahkan kapitalisme. Contohnya, Korea Utara dan Korea Selatan.

Sangat tren di Korea Selatan operasi plastik. Orang mungkin akan mengira operasi plastik merajalela karena ilmu kedokteran di sana tumbuh pesat sebagai penyebab pertama. Namun ada kemungkinan lain yang cenderung merupakan fakta, bahwa sebenarnya permintaan akan permak wajahlah yang merupakan penyebab pertama populernya operasi plastik di sana.  

Beda halnya di Korea Utara. Di sana cantik atau tidak menjadi prioritas. Ukuran wanita di sana adalah kontribusi untuk negara.

Saya jadi berpikir, sangat besar kemungkinannya bahwa tolak ukur kecantikan di masa sekarang adalah faktor bentukan. Bukan alamiah. jadi, seandainya pikiran kita tidak dibombardir oleh propaganda-propaganda ukuran kecantikan mungkin kita akan memandang bentuk fisik wanita adalah sama. Yang dimaksud di sini sama adalah kita tidak akan melihat wanita dari bentuk fisiknya sebagai prioritas.

Di sini, di Indonesia budaya hedon dan konsumerisme telah merusak tatanan sosial atau setidaknya etika. Karena ingin terlihat cantik, gadis-gadis belasan tahun berpakaian dan berdandan yang tidak semestinya. Sehingga terplesetlah ia ke dalam apa yang namanya cabe-cabean. Alih-alih menjadi gadis cantik yang jadi pujaan.

Fenoma salah kaprah seperti ini, adalah akibat buruk konsumerisme tak terkendali. Alih-alih kapitalisme membawa etos kerja positif, yang ada malah membuat keberingasan ekonomi dan kerusakan etika masyarakat. Harta telah menjadi titik berangkat untuk mengukur segalanya. Makanya tidak heran sekarang orang-orang berharta menjadi panutan.

Saya kadang muak dengan orang yang di pikirannya melulu harta. Pamer sana pamer sini kepemilikan. Padahal, apa sih manfaatnya? Toh sebenarnya wibawa dan penghormatan komunitas akan didapat dengan kebaikan dan ketegasan. Itupun kalau seseorang itu memandang perlu pentingnya nama baik dari masyarakat.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar