Kemarin,
saya sangat bahagia sebab Tuhan masih memberikan kesehatan kepada saya. Pikiran
saya begitu tenang, dan badan pun terasa fit. Nikmat kesehatan inilah yang
sering saya abaikan, saya lalaikan seperti anugerah ini sesuatu yang biasa
saja. Padahal kalau mau jujur, tak ada yang lebih dibutuhkan dalam hidup selain
nikmat sehat ini.
Orang-orang
bilang saat kita kecil kita telah melakukan perjanjian dengan Tuhan, ketika
kita dalam kandungan. Perjanjian itu meliputi seberapa jauh kita akan menaati Tuhan.
Dan, menurut Dr. Zakir Naik di situlah letak kebodohan manusia. Sebab gunung saja
akan runtuh jika diturunkan kepadanya risalah Tuhan. Memang ada kompensasi Tuhan
kepada manusia, jika dia taat maka manusia akan diangkat lebih tinggi melebihi
derajat malaikat. Namun jika sebaliknya akan jatuh lebih dalam melebihi
binatang.
Dalam
konteks inilah saya tersadar. Saya memang tidak melakukan pembunuhan dan
kejahatan besar lainnya, tapi meremehkan Tuhan tetaplah sebuah kejahatan. Malah
lebih besar mungkin dampaknya dibanding pemerkosaan. Walau sejatinya melakukan
pemerkosaan juga sebuah peremehan terhadap Tuhan.
Mengabaikan
nikmat sehat adalah salah satu peremehan terhadap Tuhan. Yang diakibatkan oleh
kealpaan mengenai perjanjian dengan Tuhan dulu di dalam kandungan.
Selain
ingat kepada Tuhan, tadi pagi saya sempat terenyuh dengan laki-laki sebaya yang
berjualan lumpiya di pinggir jalan yang biasa saya lewati. Harga satu lumpiya
1000 rupiah. Saya tanyakan kepadanya sampai jam berapa dia jualan. Ternyata
sampai sore.
Memang
tidak tepat menilai orang lain dari kaca mata kita. Namun bukan berarti salah
sama sekali. Gaya hidupnya tidak sama dengan saya. Bagi saya uang 5000 rupiah,
apalagi hanya 1000 rupiah bisa dibilang tidak ada artinya. Bukannya mau
sombong, tetapi memang kenyataannya kalau ada pecahan seribuan yang pertama ada
di pikiran saya adalah; ini untuk parkir atau yang paling banter masuk kotak
amal masjid.
Mari
kita bayangkan uang 1000 rupiah bagi penjual lumpiya. Pasti sangat-sangat
berharga. Pikirkan saja, dalam satu gerobaknya selama sehari mungkin saja dia
maksimal, katakanlah 100 ribu rupiah. Kalau lumpiya itu milik sendiri maka
seluruh keuntungannya masuk kantong sendiri. Kalau tidak, hanya berapa yang ia
bawa pulang?
Jelas,
standar hidup seperti ini buat saya tidak cocok. Saya menulis ini hanya untuk
mencoba memahami keadaan orang lain, meski saya tau orang lain yang bekerja
seperti ini tidak peduli dikasihani atau tidak. Ini penting buat saya sebagai
bahan renungan. Bahwa kehidupan yang lebih baik (yang tentu dalam versi saya)
seharusnya membuat kualitas hidup saya juga baik.
Namun
faktanya, kecukupan duniawi ternyata tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan
rohani. Selalu saja ada rasa kurang dalam materi. Keinginan, menjadi (tepatnya dijadikan)
kebutuhan. Dan pada akhirnya tentu tidak jauh dari ketidakpuasan.
Pernah
saya membaca kenapa sesuatu yang bisa dibeli dengan uang sekarang lebih
dihargai dibanding sesuatu yang tidak dapat ditukar dengan alat bayar tersebut.
Sebut saja kecantikan alami dan buatan. Ini karena pengaruh budaya hedonisme,
konsumerisme, atau bahkan kapitalisme. Contohnya, Korea Utara dan Korea Selatan.
Sangat
tren di Korea Selatan operasi plastik. Orang mungkin akan mengira operasi
plastik merajalela karena ilmu kedokteran di sana tumbuh pesat sebagai penyebab
pertama. Namun ada kemungkinan lain yang cenderung merupakan fakta, bahwa
sebenarnya permintaan akan permak wajahlah yang merupakan penyebab pertama populernya
operasi plastik di sana.
Beda
halnya di Korea Utara. Di sana cantik atau tidak menjadi prioritas.
Ukuran wanita di sana adalah kontribusi untuk negara.
Saya
jadi berpikir, sangat besar kemungkinannya bahwa tolak ukur kecantikan di masa
sekarang adalah faktor bentukan. Bukan alamiah. jadi, seandainya pikiran kita
tidak dibombardir oleh propaganda-propaganda ukuran kecantikan mungkin kita
akan memandang bentuk fisik wanita adalah sama. Yang dimaksud di sini sama
adalah kita tidak akan melihat wanita dari bentuk fisiknya sebagai prioritas.
Di
sini, di Indonesia budaya hedon dan konsumerisme telah merusak tatanan sosial
atau setidaknya etika. Karena ingin terlihat cantik, gadis-gadis belasan tahun
berpakaian dan berdandan yang tidak semestinya. Sehingga terplesetlah ia ke
dalam apa yang namanya cabe-cabean. Alih-alih menjadi gadis cantik yang jadi
pujaan.
Fenoma
salah kaprah seperti ini, adalah akibat buruk konsumerisme tak terkendali.
Alih-alih kapitalisme membawa etos kerja positif, yang ada malah membuat
keberingasan ekonomi dan kerusakan etika masyarakat. Harta telah menjadi titik
berangkat untuk mengukur segalanya. Makanya tidak heran sekarang orang-orang
berharta menjadi panutan.
Saya
kadang muak dengan orang yang di pikirannya melulu harta. Pamer sana pamer sini
kepemilikan. Padahal, apa sih manfaatnya? Toh sebenarnya wibawa dan
penghormatan komunitas akan didapat dengan kebaikan dan ketegasan. Itupun kalau
seseorang itu memandang perlu pentingnya nama baik dari masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar