Teringat akan cak nur, yang
terkenal dengan sekulerisasinya. Beliau mempopulerkan sekulerisasi untuk
memurnikan akidah (dalam pandangannya). Mengukhrawikan apa yang ukhrawi, dan
menduniawikan apa yang duniawi. Dan islam, bagi cak nur memiliki (meliputi)
seluruh sendi-sendi kehidupan. Nilai-nilai Islam bersifat universal, sejalan
dengan ajaran islam sebagai rahmat bagi sekalian alam.
Mendekati 9 April 2014, pesta
demokrasi. Seorang teman bertanya kepada saya “kamu pilih apa?” saya jawab saja
dengan gamblang “tentunya partai yang kerjanya baik”. “jawabanmu terlalu
tinggi, idealis, mana ada partai sekarang yang benar-benar bekerja ikhlas untuk
rakyat. Demikian juga kadernya, hanya ingin meraup keuntungan (seperti iklan
rokok di tv).” Saya bertanya balik “jadi kamu tidak percaya pemimpin (calon
pemimpin)?”. “tidak” katanya. Tak perlu berpanjang lebar tentang dialog itu.
Dalam pikiran kembali terbersit pemikiran cak nur: Islam, yes! Partai Islam,
no!.
Kalau dicermati, jawaban teman
saya itu betul tapi tidak benar. Betul kalau melihat kejadian para pemimpin
kita akhir-akhir ini. Korupsi merajalela, selingkuhan di mana-mana. Menumpuk
harta ambisinya, selangkangan hiburannya. Tidak yang Islam tidak yang
nasionalis, banyak pemberitaan negatif. Wajar jika masyarakat tidak percaya
kepada calon pemimpin. Sehingga bisa dimaklumi angka golput semakin tinggi.
Citra negatif partai, juga tidak lepas dari pemberitaan media (kita
harus berterima kasih kepada media). Namun, sebagai pembaca yang baik jangan
sampai menelan mentah-mentah apa yang diberitakan media. Bisa saja berita yang
diturunkan media lebih kepada keinginan masyarakat (faktor dibanding fakta
sebenarnya (dramatisir). Tidak sedikit para pemilik media merupakan anggota parpol
tertentu, harus diwaspadai bagaimana pemberitaannya.
Sehubungan dengan golput dan
Islam, yes! Partai Islam, no!-nya cak nur, apa memang benar di antara sekian
partai dan ribuan caleg yang mencalonkan diri sudah tidak ada lagi yang baik
dan benar-benar ikhlas mau bekerja untuk kepentingan masyarakat. Memang, ongkos
politik mahal, tapi itu bukan sebab kita apatis terhadap pemilu. Yang
dibutuhkan hanyalah sedikit kepercayaan. Kalau selama ini kita merasa selalu
dibohongi pemimpin, itu juga termasuk salah kita. Kenapa yang dipilih ya
itu-itu saja. Kalau dikatakan karena yang mencalonkan ya itu-itu saja, kenapa
mulai sekarang kita tidak berdisiplin diri bersiap menjadi pemimpin? Kenapa
kita tidak memimpin diri sendiri dengan baik? Kenapa harus selalu mengeluh
menyalahkan sistem? Mungkin perlu diingat, perbuatan baik sekecil apapun tapi
kalau banyak yang melakukannya pasti hasilnya akan berdampak besar.
Islam, sebagai agama yang
mengutamakan kebaikan, nilai-nilainya pasti diadopsi oleh para calon anggota
dewan (meski masih merupakan teori). Makanya, sebagai pemilih, kita juga harus
aktif mengenal mereka. Bukan tugas mereka saja mengenalkan diri. Ini
dimaksudkan agar tercipta kepemimpinan yang baik. Stabilitas dan keamanan
terjaga. Sebagaimana maksud utama demokrasi, yaitu memilih pemimpin. Entah itu
nantinya menjadi pemimpin yang baik atau buruk. Ini sejalan dengan adagium
“enam puluh tahun bersama pemimpin yang jahat, lebih baik daripada satu malam
tanpa pemimpin”. Tugas kita sebenarnya adalah memilih dan mengawasi.
Memilih dalam pemilu, memberi
arti bahwa kita percaya diri. Percaya kepada apa yang kita pikirkan kemudian
kita pilih untuk lakukan. Orang golput itu adalah orang apatis. Tentang orang
apatis, Koffi Annan pernah berkata “bangsa yang besar adalah bangsa yang
pemudanya tidak apatis terhadap pemilu”. Kalau kau tidak percaya orang lain,
mulai sekarang buatlah dirimu dipercaya orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar