Rabu, 26 Maret 2014

Islam, yes! Partai Islam, No! Golput, No!

Teringat akan cak nur, yang terkenal dengan sekulerisasinya. Beliau mempopulerkan sekulerisasi untuk memurnikan akidah (dalam pandangannya). Mengukhrawikan apa yang ukhrawi, dan menduniawikan apa yang duniawi. Dan islam, bagi cak nur memiliki (meliputi) seluruh sendi-sendi kehidupan. Nilai-nilai Islam bersifat universal, sejalan dengan ajaran islam sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Mendekati 9 April 2014, pesta demokrasi. Seorang teman bertanya kepada saya “kamu pilih apa?” saya jawab saja dengan gamblang “tentunya partai yang kerjanya baik”. “jawabanmu terlalu tinggi, idealis, mana ada partai sekarang yang benar-benar bekerja ikhlas untuk rakyat. Demikian juga kadernya, hanya ingin meraup keuntungan (seperti iklan rokok di tv).” Saya bertanya balik “jadi kamu tidak percaya pemimpin (calon pemimpin)?”. “tidak” katanya. Tak perlu berpanjang lebar tentang dialog itu. Dalam pikiran kembali terbersit pemikiran cak nur: Islam, yes! Partai Islam, no!.

Kalau dicermati, jawaban teman saya itu betul tapi tidak benar. Betul kalau melihat kejadian para pemimpin kita akhir-akhir ini. Korupsi merajalela, selingkuhan di mana-mana. Menumpuk harta ambisinya, selangkangan hiburannya. Tidak yang Islam tidak yang nasionalis, banyak pemberitaan negatif. Wajar jika masyarakat tidak percaya kepada calon pemimpin. Sehingga bisa dimaklumi angka golput semakin tinggi.

Citra negatif partai, juga tidak lepas dari pemberitaan media (kita harus berterima kasih kepada media). Namun, sebagai pembaca yang baik jangan sampai menelan mentah-mentah apa yang diberitakan media. Bisa saja berita yang diturunkan media lebih kepada keinginan masyarakat (faktor dibanding fakta sebenarnya (dramatisir). Tidak sedikit para pemilik media merupakan anggota parpol tertentu, harus diwaspadai bagaimana pemberitaannya.

Sehubungan dengan golput dan Islam, yes! Partai Islam, no!-nya cak nur, apa memang benar di antara sekian partai dan ribuan caleg yang mencalonkan diri sudah tidak ada lagi yang baik dan benar-benar ikhlas mau bekerja untuk kepentingan masyarakat. Memang, ongkos politik mahal, tapi itu bukan sebab kita apatis terhadap pemilu. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit kepercayaan. Kalau selama ini kita merasa selalu dibohongi pemimpin, itu juga termasuk salah kita. Kenapa yang dipilih ya itu-itu saja. Kalau dikatakan karena yang mencalonkan ya itu-itu saja, kenapa mulai sekarang kita tidak berdisiplin diri bersiap menjadi pemimpin? Kenapa kita tidak memimpin diri sendiri dengan baik? Kenapa harus selalu mengeluh menyalahkan sistem? Mungkin perlu diingat, perbuatan baik sekecil apapun tapi kalau banyak yang melakukannya pasti hasilnya akan berdampak besar.

Islam, sebagai agama yang mengutamakan kebaikan, nilai-nilainya pasti diadopsi oleh para calon anggota dewan (meski masih merupakan teori). Makanya, sebagai pemilih, kita juga harus aktif mengenal mereka. Bukan tugas mereka saja mengenalkan diri. Ini dimaksudkan agar tercipta kepemimpinan yang baik. Stabilitas dan keamanan terjaga. Sebagaimana maksud utama demokrasi, yaitu memilih pemimpin. Entah itu nantinya menjadi pemimpin yang baik atau buruk. Ini sejalan dengan adagium “enam puluh tahun bersama pemimpin yang jahat, lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin”. Tugas kita sebenarnya adalah memilih dan mengawasi.

Memilih dalam pemilu, memberi arti bahwa kita percaya diri. Percaya kepada apa yang kita pikirkan kemudian kita pilih untuk lakukan. Orang golput itu adalah orang apatis. Tentang orang apatis, Koffi Annan pernah berkata “bangsa yang besar adalah bangsa yang pemudanya tidak apatis terhadap pemilu”. Kalau kau tidak percaya orang lain, mulai sekarang buatlah dirimu dipercaya orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar